Kamis, 03 April 2014
Bertugas sebagai Deputy Pemimpin PLN Wilayah Sumut.
Semula aku ketir juga, mau berangkat ke Medan. Sebelum berangkat ke Medan, aku harus melakukan Serah Terima Jabatan, dengan para penggantiku, kok pakai para,he.....ada ceritranya. PLN Sektor Kalikonto itu dibagi dua menjadi PLN Sektor Surabaya dan PLN Sektor Malang. Ir Djuwarno yg pernah menggati aku di Madiun, menjadi Kepala PLN Sektor Surabaya, sedang Ir.Djoko Hastowo yang sebelumnya menjadi Kepala Bagian Teknik PLN Sektor Kalikonto, menjadi Kepala PLN Sektor Malang. Selesai acara Serah Terima, kami segera berangkat ke Medan. Melalui Bandara Juanda menuju Jakarta. Kami nginap semalam di Jakarta, tepatnya di Hotel Sahid Jaya. Kesempatan itu kami gunakan berdarmawisata ke Ancol, anak-anak mendapat kepuasan tersendiri. Besoknya kami melalui Bandara Soekarno Hatta menuju Medan, sementara menunggu perumahan dinas siap, kami nginap di Hotel Tiara Medan. Aku mulai bekerja di Kantor PLN Wilayah Sumut, ada pergantian Pemimpin,yang semula Ir.Nurcahya Manuaba,pindah menjadi Pemimpin PLN KJB, menggantikan Ir. AD Kamarga yg telah menjadi Direktur Pengusahaan di PLN Pusat. Pemimpin yang baru adalah Ir.Susanto Kramadibarata, semula Pemimpin PLN Wilayah Kalseltengtim.Lain Pemimpin,lain pula gayanya,hal yang wajar saja.Dari Pemimpin aku mendapat beberapa tugas, resminya adalah Deputy Pemimpin Bidang Perencanaan, namun tugas tambahan ada beberapa yaitu sebagai Koordinator Perencanaan dan Peresmian Listrik Desa, lalu menjadi Ketua Tim LRP, Loos Reduction Program, penurunan losses di PLN Sumut dan Ketua Panitia Pemeriksaan Kualitas Barang di PLN Sumut. Ada hal-hal yang menguntungkan aku sebagai putra daerah Samosir, Listrik di Samosir kurencanakan pemasangan jaringan tegangan menengah, sistim 20 kv, sekeliling pulau Samosir, artinya kampungku Desa Simarmatapun ikut menikmati Listrik. Satu saat,atau tepatnya pada tahun 1986, ada perayaan Jubileum 150 tahun HKBP, direncanakan Presiden Soeharo akan hadir di Tarutung, maka seluruh persiapan akomodasi harus siap, termasuk listrik,agar acara bisa berjalan dengan baik.Karena sesuatu dan lain hal, Pemimpin kami Ir.Soesanto Kramadibrata berhalangan untuk melihat persiapan PLN di Tarutung.Beliau minta saya yang mewakilinya, baik sebagai Undangan,maupun sebagai Pemimpin yang bertanggung jawab akan listrik itu,maka akupun berangkatlah ke Tarutung,ada tiga hari aku disana utk persiapan dan pelaksanaan pesta itu. Pak Harto hanya sebentar hadir, namun persiapannya berbulan-bulan. Satu saat juga, Pemimpin PLN Wilayah Sumut, bertugas ke Luar Negeri selama dua bulan, aku yang ditunjuk menjadi Care Taker,atau PLT Pemimpin PLN Wilayah Sumut. Ada kunjungan Menteri Pertambangan dan Energi Prof Dr Subroto ke Loksumawe, Aceh, tapi beliau hanya sampai Medan naik pesawat ekonomi. Dari Medan ke Loksumawe, Mobil Oil dan LNG menyewa satu pesawat khusus, carteran. Setelah pak Menteri di Medan dan Aceh, telex dari PLN Pusat minta agar PLN Wilayah Sumut, berkoordinasi dengan Mobil Oil dan LNG. Aku jadinya ikut dalam rombongan Menteri dalam pesawat carteran itu, Medan-Loksumawe pergi pulang. Acara di Loksumawe sepenuhnya urusan Mobil Oil dan LNG, tapi acara di Bandara Polonia,menjadi tanggung jawab PLN,terutama Konperensi Pers soal PLTU Belawan yang sering terganggu, akulah sebagai Penanggung Jawabnya. Puji Tuhan semua acara berjalan dengan baik.
Ompungku dan Bapakku kembali ke PenciptaNya dalam Mutasi.
Saat aku bertugas di PLN Sektor Madiun, Tuhan memanggil kembali Ompungku, Ompu Berlin Simarmata. Usianya sudah sangat renta, mungkin hampir seratus tahun. Seluruh keluarga besar, sudah pada mulai ngumpul di kampung kami, Lumbanbolak-Galungan. Kejadian ini kira-kira bulan Pebruari 1982. Karena secara adat Batak, Ompungku dianggap sudah pantas dipestakan,karena aku panggoarinya saja,sudah punya anak, jadi Ompungku sudah banyak punya cucu dan cicit. Aku pulang ke Sumut, dari Madiun naik kereta api ke Jakarta,lalu dari Jakarta naik pesawat ke Medan, dan seterusnya bergabung dengan keluarga di Samosir, semua sudah siap, tinggal menunggu aku saja. Mulai malamnya Gondang dimulai, dan besoknya acara di halaman, sesuai dengan adat istiadat. Malamnya ada acara adat lagi,lalu besoknya mulai pada berpulangan ke tempat masing-masing. Entah kenapa Ayahku ngantarkan aku sampai ke Tebingtinggi, mungkin dia ingin bicara lebih mendalam dalam berbagai hal. Dia bawa juga tongkat yang selama ini dipakai Ompungku, sekarang tongkat itu ada padaku. Kami berpisah di Tebing, aku ke Medan langsung ke Jakarta dan Surabaya,lalu ke Madiun, sementara bapakku balik ke Samosir untuk menyelesaikan berbagai hal. Setelah aku sampai di Madiun, beberapa bulan kemudian ada khabar, aku dimutasikan ke kantor PLN Wilayah Jatim, sebagai Kepala Bagian Operasi Distribusi . Saya digantikan oleh Ir.Djuwarno, seorang Sarjana Teknik dari ITS. Kami di Surabaya menempati rumah dinas PLN di Jalan Tidar,rumahnya hampir sama besarnya dengan rumah dinas PLN,yang dijalan Thamrin no.4 Madiun. Baru saja aku bertugas di kantor PLN Jatim, datang berita mendadak, Ayahku kena serangan jantung, kejadian ini sekitar bulan Nopember 1982.Iparku Ir.J.Sagala yg mendapat informasi dari Tebing, lalu menelponku ke Surabaya. Tentu saja aku bingung, bercampur sedih,rupanya pertemuan kami pada bulan Pebruari yg lalu, pada saat Ompungku meninggal, dalam acara pesta siang hari itu,aku dan bapakku menari bersama, semua terjadi secara spontan belaka.Maka kamipun segera bergegas mengurus segala keperluan yg dibutuhkan untuk pulang itu. Istriku yang dalam keadaan hamil, pulang pada malam harinya,karena kontrol dulu ke dokter, maksudku aku pulang pagi hari, dari Surabaya ke Jakarta,langsung ke Medan, sedang istri sore hari ke Jakarta dan malamnya ke Medan. Aku ketemuan dengan kedua iparku di Kemayoran Jakarta, lalu selanjutnya kami pulang bersama ke Medan dan selanjutnya ke Tebing. Seluruh acara adat dan pemakaman Ayahku berlangsung baik, ada acara adat Margondang, lalu dibawa ke Gereja HKBP Kotabaru Tebingtinggi,selanjutnya ke pemakaman Kristen di Tebingtinggi. Kemudian hari Tulang Belulang Ayahku ini kami pindahkan ke makam keluarga dekat Rumah yang dibangun oleh Ayahanda di dekat jalan Raya di Galungan. Setelah selesai semua urusan adat di Tebingtinggi, kami kembali ke tempat kerja masing-masing. Sementara Ibu kami masih di Tebingtinggi, sambil menunggu hatinya berkenaan. Akupun kembali bertugas di kantor PLN Wilayah Jatim. Terdengar khabar akan ada lagi mutasi, sehubungan dengan adanya pembagian kantor Wilayah Jatim,menjadi dua yaitu PLN Distribusi Jatim dan PLN Pembangkit dan Penyaluran Jawa Bagian Timur. Tak lama, hanya beberapa bulan saja aku bertugas sebagai Kepala Operasi Distribusi,lalu menjadi Kepala PLN Sektor Kalikonto pada PLN KJT. Bagiku bertugas di PLN Sektor Kalikonto adalah hal yang biasa,karena sudah lama aku mengenal area dan orang-orangnya,yang kuganti adalah mantan atasan saya bpk Soepardi BEE,PLN Sektor Kalikonto membawahi seluruh Gardu Induk dan Transmissi yang ada di Jawa Timur dikurangi yang ada di Karesidenan Madiun,alias Sektor Madiun, ditambah PLTA Mendalan, PLTA Siman dan PLTA Selorejo. Hampir sama dengan PLN Sektor Madiun,hanya volume kerjanya saja yang jauh lebih besar. Kalau di Madiun jumlah pegawai hanya sekitar dua ratus orang, maka di PLN Sektor Kalikonto hampir seribu orang. Permasalahannya hampir sama saja. Selama di PLN Sektor Kalikonto saya mendapat kesempatan mengikuti kursus Relay dan Proteksi di ASEA Swedia pada tahun 1985, teringat pada tahun 1978, saat saya menjadi Kepala Transmissi Surabaya Selatan PLN Sektor Kalikonto mendapat kesempatan kursus Relay dan Proteksi juga di BBC,Swiss.Hampir sama, makanya tidak heran kalau kemudian hari kedua perusaan ini digabung menjadi Satu, dengan nama ABB, gabungan dari ASEA
dan BBC. Selesai tugas dari luar negeri, aku dapat informasi akan dimutasikan ke PLN Wilayah Sumut, sebagai Deputy Pemimpin Bidang Perencanaan PLN Wilayah Sumut. Saat aku sebagai Kepala Operasi Distribusi PLN Jatim,lahirlah anakku nomor tiga namanya Parulian Simarmata, diyakini dia menggantikan Ompungnya, Ayahku yang meninggal dua bulan sebelumnya,karena Parulian lahir tanggal 19 Januari 1983. Kemudian anak keempat ,atau putri tunggalku,lahir pada saat aku bertugas keluar negeri, dan kota tempat kami bertugas di Swedia kuabadikan yaitu Ludvika, nama lengkapnya menjadi Maria Oktofany Ludvika boru Simarmata. Kini aku mempersiapkan diri untuk bertugas di Medan, setelah bertugas sebagai Kepala Sektor Kalikonto selama tiga setengah tahun. Tuhan yang akan membimbingku.
dan BBC. Selesai tugas dari luar negeri, aku dapat informasi akan dimutasikan ke PLN Wilayah Sumut, sebagai Deputy Pemimpin Bidang Perencanaan PLN Wilayah Sumut. Saat aku sebagai Kepala Operasi Distribusi PLN Jatim,lahirlah anakku nomor tiga namanya Parulian Simarmata, diyakini dia menggantikan Ompungnya, Ayahku yang meninggal dua bulan sebelumnya,karena Parulian lahir tanggal 19 Januari 1983. Kemudian anak keempat ,atau putri tunggalku,lahir pada saat aku bertugas keluar negeri, dan kota tempat kami bertugas di Swedia kuabadikan yaitu Ludvika, nama lengkapnya menjadi Maria Oktofany Ludvika boru Simarmata. Kini aku mempersiapkan diri untuk bertugas di Medan, setelah bertugas sebagai Kepala Sektor Kalikonto selama tiga setengah tahun. Tuhan yang akan membimbingku.
Rabu, 02 April 2014
Perjalanan karier tidak selalu mulus .
Pulang dari Medan, melalui Jakarta, aku dan istri menginap satu malam di Mess PLN Embong Trengguli Surabaya, setelah konsultasi sebentar ke kantor PLN Wilayah, posisi saya yang diperbantukan di Bagian Operasi Listrik, masih tetap, namun untuk sementara waktu diperbantukan di PLN Sektor Madiun. Saat itu yang menjadi Pemimpin PLN Wilayah Jawa Timur adalah Ir.Suyudi Surachmad. Kami meneruskan perjalanan ke Madiun, namun sebelumnya mampir di Kampus Fakultas Teknik Elektro ITS, karena ada hal-hal yang harus saya selesaikan karena saya adalah Dosen Tidak Tetap disini. Sampai di Madiun, kami tinggal dirumah dinas pegawai PLN Sektor Madiun. Kemudian aku ditugaskan menjadi Care Taker Kepala Bagian Pemeliharaan di Kantor PLN Sektor Kalikonto, untuk beberapa bulan, dan kami kembali tinggal nginap di Mess PLN Embong Trengguli, kejadian ini sudah pada akhir tahun 1975. Istriku sudah hamil beberapa bulan. Lalu pejabat yang kugantikan sementara balik dari tugas belajarnya,akupun diperbantukanlah paga Kepala PLN Sektor Kalikonto. Kemudian Kepala Transmissi Bangil (dekat Pasuruan) mendapat tugas belajar selama tiga bulan, melalui proses yang berliku-liku, aku ditugaskan lagi menjadi CT Kepala Transmissi Bangil pada PLN Sektor Bangil. Bulan April tahun 1976,tepatnya tanggal 24 April, anak saya yang pertama lahir, jadi setahun lebih sepuluh hari dari hari pernikahan kami. Kami beri dia nama Barita Martin Parluhutan Simarmata. Barita dari Ompungnya (Ayahku), Martin dari Ibunya, Parluhutan dari aku. Setelah bertugas di Transmissi Bangil, saya lalu ditugaskan secara definitif menjadi Kepala Transmissi Surabaya Selatan pada PLN Sektor Kalikonto.Terjadi lagi tantangan besar, Transformatoru 150 KV/ 70 KV terbakar,karena Relaynya tidak bekerja, disebabkan sumber arus searahnya tidak tersedia,ada kesalahan sistim yang berlaku selama ini. Saya diperiksa oleh berbagai pihak, karena dampaknya adanya pemadaman sebahagian daerah Jawa Timur. Tidak terdapat kesalahan pribadi, tapi ada kesalahan sistim yang berlaku selama ini, lalu saya tetap melanjutkan tugas sebagai Kepala Transmissi Surabaya Selatan. Setelah bertugas kira-kira dua tahun di Waru sebagai Kepala Transmissi Surabaya Selatan, anak kami nomor dua lahir,tepatnya tanggal 22 Nopember 1978, kami beri nama Patar Parningotan Simarmata, Patar dari Ompungnya ( Ibuku) dan Parningotan dari Saya, sebagai pertanda akan Kasih Tuhan, saat dia dalam kandungan ibunya, aku harus menjalani operasi batu ginjal, saat itu sudah masuk kategori operasi besar, hampir tiga jam.Kemudian aku mutasi ke kantor PLN Wilayah Jatim, sebagai Kepala Seksi Transmissi dan Gardu Induk. Hanya setahun disini,aku mutasi lagi ke Madiun, menjadi Kepala PLN Sektor Madiun. Madiun bagiku bukan hal baru lagi, karena sudah pernah beberapa bulan sebagai pegawai diperbantukan disana,sekalian berbulan madu.Di Madiun pergaulan menarik, hubungan antara sesama Kepala Instansi sangat baik.PLN Sektor Madiun saat itu membawahi PLTA Golang, PLTA Giringan, PLTA Ngebel dan Transmissi dan Gardu Induk se Karesidenan Madiun, dari GI Manisrejo sampai GI Pacitan.Dua tahun bertugas di Madiun, mutasi lagi ke Surabaya sebagai Kepala Bagian Operasi Distribusi di kantor PLN Wilayah Jatim.Pemimpin PLN Wilayah saat itu adalah Ir.RM.Sajid Budihardjo.
Selasa, 01 April 2014
Pernikahan .
Setelah saya kerja, maka desakan orang tuaku, agar aku segera menikah, menjadi hal yang wajar. Kuingat selalu kata-kata Bapakku : Aku ingin ganti nama , katanya, segera kumaklumi apa maksudnya, karena bagi orang Batak, kalau dia dapat cucu dari anak lakinya yang pertama, maka diapun akan memakai nama cucunya itu, sedangkan kalau itu cucu dari anak perempuannya, maka ada tambahan nama " Si ", karena marganya dan marga cucunya ada perbedaan. Demikianlah desakan orangtuaku, dan dia tidak membatasi boru nya siapa yang akan kunikahi, yang penting kamu cintai calon istrimu itu, karena selalu bapakku mengingatkan peristiwa yang pernah dialaminya dengan pahit getir, menikah dengan boru tulangnya kandung, setelah berumahtangga selama empat tahun, tak kunjung mendapatkan anak, merekapun bercerai, saat itu agama Kristen belum begitu kuat didalami masyarakat. Mengherankan setelah mereka bercerai, menikah masing-masing dengan pasangan pilihannya, kedua keluarga itu mendapatkan keturunan, yah Tuhan punya kuasa. Atas rekomendasi dari keluarga, akhirnya aku mencoba mencari jodoh,karena yang kucari sendiri tidak berhasil, KN menikah dengan marga Siahaan, DS akhirnya menikah dengan marga Siahaan juga, lalu aku mencoba mendekati MS, yang disponsori oleh keluarga. Kebetulan yang banyak sama kami adalah boru Sinaga dan boru Sihaloho. Masih ada pengaruh Serasi dan Tidak Serasi,hal yang biasa dalam budaya Batak, namun dalam keKristenanan hal demikian tidak ada. Setelah kami berkiriman surat beberapa kali, maka direncanakan lah agar ada perkenalan secara dekat, maka akupun pulanglah dari Surabaya dan menemui MS dirumah mereka di Medan, dan seterusnya memperkenalkan diri ke ortunya MS di Tarutung, yang sedang menjabat Bupati Taput, Kol MSM Sinaga / br.Silalahi. Selanjutnya aku balik ke Surabaya, untuk tugas yang sudah kupilih. Hubungan ku dengan MS, akhirnya diijinkan Tuhan, dan pernikahan kami berlangsung di Gereja HKBP Tarutung Kota,pada tanggal 14 April 2014. Setelah kami selesai mengikuti seluruh acara Pesta Pernikahan, mulai dari pagi dirumah jabatan Amang Mertua, marsibuha-buhai, acara pernikahan catatan sipil,lalu ke Gereja HKBP, selanjutnya Acara Adat. Dari Tarutung,kami menuju Tebingtinggi, sudah pkl 19.oo wib dan sampai di Tebingtinggi sudah lewat tengah malam. Beberapa hari kemudian datanglah rombongan Mertua ,istilahnya Maningkir Tangga kerumah kami di Tebingtinggi. Kami, aku dan istriku Marth boru Sinaga berangkat ke Surabaya, setelah di Medan ada dua malam. Di Jakarta kami nginap di Mess PLN Sam Ratulangi, terus ke Surabaya.
Mulai bertugas di PLN Wilayah Jawa Timur.
Berlaku tata cara bagi penerimaan pegawai baru di PLN, sebagai Insinjur baru, tentu saja tidak langsung bisa siap pakai, walau telah beberapa tahun kuliah, dan kerja praktek di PLN selama empat bulan, maka si pegawai baru yang sarjana teknik itu,harus melalui job training , dan saya kebagian tugas job training itu selama empat bulan masing-masing di PLTU Perak dua bulan, PLTA Mendalan satu bulan, dan PLN Cabang Surabaya Utara satu bulan. Walau hampir mirip dengan penugasan saya tatkala kerja praktek, namun status saya yang sudah Sarjana, tentu tidak baik lagi, kalau terlalu banyak bertanya kepada para pegawai PLN, jadi jelasnya sudah sambil kerja dan sambil belajar. Begitulah saya bekerja dan sambil belajar di PLTU Perak. PLTU Perak memang buatan Westinghouse AS, namun secara prinsip semua PLTU sama saja, paling ada perbedaan sana sini sedikit soal alat-alat bantu. Kebetulan saat itu PLTU Perak sedang mengalami overhaul, maka terbuka kesempatan bagi saya untuk mengetahui lebih dalam soal teknik permesinan, walau saya Sarjana Teknik Tenaga Listrik, kalau ada kemauan bisa saja belajar di lapangan soal teknik mesin. Banyak kawan-kawan yang dasar ilmunya listrik, namun bisa bekerja di PLTU, semuanya itu didorong oleh rasa ingin tau,ingin mendalami, karena pembangkit tenaga listrik adalah jantungnya PLN,apa yang mau dibagi,kalau tidak ada produksinya dari pusat-pusat listrik. Demikianlah tak terasa aku bekerja selama dua bulan, bergaul dengan para pegawai , dan dengan sendirinya dapat merasakan apa yang mereka rasakan sebagai operator,sebagai tenaga pemeliharaan. Setelah selesai bertugas di PLTU Perak, saya berangkat ke PLTA Mendalan, kalau PLTU Perak masuk dalam asuhan PLN Sektor Perak, maka PLTA Mendalan masuk dalam asuhan PLN Sektor Kalikonto.Bedanya PLTA dengan PLTU, secara garis besar adalah pada Primemovernya, penggerak mula, atau lebih khusus pada turbin nya. Kalau pada PLTU, maka adanya perbedaan tekanan uap lah yang menggerakkan turbin, dan selanjutnya menggerakkan generator, maka pada PLTA, adanya tekanan air jatuhlah yang menggerakkan turbin air,lalu turbin memutar generator dan seterusnya. Kalau PLTU biasanya ditepi pantai, maka PLTA ada di pegunungan, dimana ada air terjun yang dapat dikelola sedemikian rupa. Kalau selama di PLTU Perak, saya merasakan bisingnya PLTU itu, maka di PLTA Mendalan, terasa hidup tenang,damai, dan udara sejuk, siap kerja, bisa main tennis,sebagai olah raga dan hiburan.Satu bulan di PLTA Mendalan, sepertinya lama bangat, namun dua bulan di PLTU Perak terasa kok cepat bangat waktunya. Satu bulan berikutnya saya kerja praktek di PLN Cabang Surabaya Utara, Kota Surabaya karena dianggap sudah besar,maka dibagi dalam dua Cabang,yaitu PLN Cabang Surabaya Utara dan Cabang Surabaya Selatan. Pekerjaan yang saya ikuti adalah mengatasi kalau ada gangguan kabel, terutama kabel tanah, karena hal ini sangat menarik , mencari dulu dimana tempat gangguan itu, baru menyambungnya. Kalau pemasangan instalasi rumah,tentu saja itu kerjaan instalatur, namun sebagi orang PLN,harus tau juga. Demikianlah tak terasa,waktu satu bulan habis saya pakai di PLN Cabang Surabaya Utara. Saya kembali ke kantor PLN Wilayah Jatim, dan ditempatkan di Bagian Operasi Listrik, diperbantukan untuk sementara waktu sambil menunggu perkembangan waktu.
Senin, 31 Maret 2014
Setelah pulang ke Sumut, lalu mencari kerja .
Setelah selesai ujian Sarjana, aku pulang dulu ke Sumut, naik kapal dari Tanjung Priok, dua malam sampai di Belawan, adik-adikku telah menjemputku di Belawan. Kami pulang ke Tebingtinggi, dengan mobil taxi carteran, nggak terasa begitu cepat sampai di rumah kami di jalan Siantar, dimana Ayah dan Ibuku sudah menunggu kami. Setelah melepas rindu, karena ada beberapa tahun aku nggak pulang, sesuai janjiku hanya sekali pulang di tengah perkuliahan, setelah lulus baru pulang lagi.Kini itu telah kupenuhi, dan mulailah dibicarakan apa rencana selanjutnya, terlihat Ober sekolahnya kurang maju, terutama setelah dia SMA di Medan. Renti kuliah di Akademi Pimpinan Perusahaan, Medan,bersama dgn saudara kami Kardiman Simarmata, dan Riomsi kuliah di USU FIPIA ,bersama saudara kami Marlen Simarmata. Disatu pihak Ortu telah merasa berat bangat beban hidup, maka sebagai langkah pertama Ober akan saya pindah ke Bandung,agar lebih serius belajarnya, dan mulai ketahuan ada masalah-masalah dalam keluarga. Saya pulang sebentar ke Samosir,melihat Ompung dan keluarga disana, dan hanya dua hari sudah balik lagi ke Tebingtinggi. Kini harus main cepat cari kerjaan,karena sudah ada tuntutan tanggung jawab. Maka setelah berkumpul beberapa hari dengan keluarga besar di Tebingtinggi, maka akupun segera balik ke Jakarta dan Bandung, dari Polonia,ini semua dalam bulan Agustus 1973. Aku ke Bandung sebentar,lalu ke Jakarta,untuk urusan administrasi dalam rangka melamar pekerjaan. Saya melamar di PLN Pusat, mengikuti testing oleh beberapa Kepala Dinas di PLN Pusat, antara lain saya ingat Kepala Dinas Kepegawaian, Kepala Dinas Teknik Gardu Induk dlsb, saya tunjukin Tugas Akhir Saya,dan bukti kerja praktek di PLTU Priok, PLN LMK,dan PLN Cabang Bandung,prinsip saya diterima,namun harus mengikuti ujian test kesehatan, dan physichotest. Setelah ini semua saya lalui, maka saya diputuskan ditempatkan di PLN Wilayah Jawa Timur, terhitung mulai tanggal 1 September 1973. Saya diberi SPPD, Surat Perintah Perjalanan Dinas,selama tiga hari, tapi saya tidak ngerti maksudnya, lalu terima apa adanya,tiket dan ada uang saku, rupanya kalau mau nginap di Hotel bisa tiga hari sambil cari pemondokan. Di Jakarta sempat juga aku cari indekost, selama proses penerimaan kerja di PLN itu. Sewaktu sampai di Surabaya, kebetulan sudah agak malam, saya naik taxi,dari Bandara Juanda, langsung naik taxi,berlagak tau, didalam taxi,pengemudi tanya, mau kemana pak, lalu saya jawab dengan stel yakin, Tegal Sari, kuingat ada Asrama Mahasiswa GMKI, benar aku bisa nompang beberapa malam disitu,sesudah itu dapatkan tempat kost di Jalan Pregolan Bunder. Saya pindah kesini, setelah melapor dulu ke kantor PLN Wilayah Jatim,di jalan (Embong) Trengguli Surabaya. Semua urusan beres, sekalian pindah rumah ke kos-kosan, terima kasih kawan-kawan GMKI, yang telah membantu, Puji Tuhan !
Persiapan dan Pelaksanaan Ujian Sarjana.
Awal tahun 1972, Ayahku mengirim surat padaku, yang nulis adalah adikku Riomsi boru Simarmata,isinya agak mengejutkan aku, karena ada desakan agar segera lulus, saya tidak ingin kamu aktif berorganisasi, tugasmu adalah menyelesaikan kuliah. Tanpa kusadari satu saat rupanya para orang tua mahasiswa mendapatkan Berita-Berita ITB, dan disana dimuat aku yang menjadi Ketua I MPM ITB, sebagaimana biasa aku lantas jadi bingung, karena aku tidak mau mengecewakan orangtuaku,walau praktis mereka sudah nggak ngirim biaya hidupku lagi,karena aku menerima dua beasiswa,seperti yang sudah kujelaskan didepan, namun aku tidak mau mengecewakan orangtuaku. Segeralah lulus ! Tahun 1972,praktis semua kegiatan organisasi kutinggalkan,perhatian penuh nyusun qolloqium, skripsi,atau biasa disebut tugas akhir. Ada beberapa matakuliah pilihan yang belum sempat kuselesaikan,kutekuni agar segera lewat mata kuliah itu. Puji Tuhan, hampir semua yang kurencanakan berjalan dengan baik. Awal tahun 1973,aku sudah sangat intensif diskusi dengan Pembimbing, aku punya dua Pembimbing,masing-masing Dr.Soejana Sapiie dan Dr.Firman Tambunan. Beberapa kali aku harus ke Jakarta, ke kantor Dr.F.Tambunan di kantor Menteri PUTL, karena beliau disana sebagai Staf Ahli Menteri PUTL dan menemui Dr.Soejana Sapiie juga sering mengalami kendala,karena beliau ini sangat sibuk, saat itu sedang menjabat Direktur LAPI ITB,satu Lembaga Afiliasi Pengembangan Industri. Akhir Juni 1973, skripsiku sudah selesai dijilid, didaftarkan untuk waktu yang tepat buat ujian Sarjana. Kalau saya tidak salah, maka bulan Juli 1973,akupun maju ujian, dengan istilah yg biasa dipakai Meja Hijau. Pembimbingku hadir dua-duanya, dan Tim Penguji ada tiga orang, Dr.Muhammadi, Ir.Tunggal Mardiono MSc, Ir.Harsono MSc. Saya dikasih kesempatan menguraikan skripsiku,judulnya, masih kuingat " Keandalan Sistim Tenaga Listrik Jawa Barat ",lalu satu jam ketiga Penguji diberi kesempatan untuk menanyai aku, mereka silih berganti , dan Pembimbingku kelihatannya membiarkan saja, mereka hanya senyum-senyum saja, melihat aku menjawab para Penguji. Setelah dua jam total, aku keluar ruangan sidang, lalu mereka berunding, dan Dosen Pembimbingku Dr.Firman Tambunan yang duluan memberi ucapan Selamat, dan saat itu dia bilang nilaiku Delapan, lalu Dr.Soedjana Sapiie menyalami aku, lalu para dosen Penguji yang kukemukakaan tadi. Maka sejak saat itu resmilah aku menjadi Sarjana, dgn gelar Ir, selengkapnya Ir Berlin Simarmata. Puji Tuhan.
Langganan:
Postingan (Atom)



























.jpg)
.jpg)