Selama menjadi murid SD Negeri Simarmata, ada beberapa hal yang terkenang dalam hatiku :
1.Saya masuk SD itu, dari segi usia sebenarnya sudah mendekati, karena bulan Agustus tahun 1953,saya sudah berusia hampir enam tahun, namun penerimaan adalah bulan Juli, jadi kurang sedikit, ditambah lagi tangan kanan saya tidak dapat menjangkau telinga kiri melalui atas kepala, atau sebaliknya tangan kiri tak dapat menjangkau telinga kanan melalui atas kepala, maka jadilah oleh Kepala Sekolah Dasar kami,saya jadi murid Pendengar aja dulu,nanti kalau mampu jalan terus,kalau tidak mampu yah ngulang, eh taunya malah saya jadi juara kelas,he....narsis juga nih.....!Kepala SD itu adalah Amangtua J.Simarmata.
2. Dulu di kelas satu SD, ada guru kami Amang Simanihuruk, orangnya tinggi besar, namun kalau kami tidak dapat menjawab pertanyaannya,nggak segan-segan, mukul pakai belebas panjang, dan bisa jadi belebasnya sampai patah. Ampun akupun pernah sekali kebagian akan pukulan itu,teman-teman ada yg berkali-kali, namun kami sangat hormat padanya,karena itulah cikal bakal semua sekolah,yah di kelas satu itu.
3. Dikelas tiga SD, saya ingat saya sering bolos,karena setiap hari Senin, saya harus ke Haranggaol, hari pekan, belanja untuk keperluan barang-barang yg dijual di kedai kami,ibuku buka kedai kopi dan jualan barang keperluan sehari-hari.Ibu ku sakit beberapa lama, dan Ayahku juga sakit beberapa lama di RSU Tarutung.Walau aku sering bolos, guruku rupanya cukup mengerti, dan melihat kpd kenyataan bahwa aku bisa juga mengikuti pelajaran, malah kalau nggak juara satu yah juara dualah. ini atas pertolongan Tuhan.
4. Kelas enam,kami akan ujian akhir di Pangururan,kami semua kelas enam berangkat ke Kota Terbesar di Pulau Samosir itu, semalaman kami anak-anak ketawa-ketawa saja, karena senang bisa masuk rumah makannya pak Saragi, kami tidur dilantai atas, dan besok paginya siap-siap menuju ke Ruangan Ujian. Kuingat kami ditempatkan di SD Negeri 2 Pangururan, Hariaratolu. Perasaan santai saja, karena senang bisa masuk kota. Tatkala keluar Pengumuman hasil ujian, satu-satunya murid yg dapat hasil ujian Berhitung sepuluh,hanya aku, Yah Tuhan Maha Besar Kau,aku sama sekali nggak nyangka.Saat itu Kepala SD adalah Amanguda Cy.Simarmata,yg kemudian hari terkenal karena anaknya WTP,jadi Ephorus HKBP.
5. Saya kurang jelas,tapi kira-kira aku kelas tiga SD kali yah, Ompung Boruku dipanggil Tuhan, Ayahku yang sangat sayang akan Ibunya, sepeninggalnya jatuh sakit, dan berobat dirumah Tulangku di Perdagangan. Mungkin aku sudah kelas empat atau lima,Ompungku Doli, Ibuku,dan aku pergi melihatnya ke Perdagangan. Nah ditengah jalan,antara Siantar dan Perdagangan, tepatnya km 6, mobil yang kami tumpangi terbalik, entah apa penyebabnya aku nggak jelas,yg kuingat Ompungku luka di hidungnya, Ibuku luka di dahinya,dan aku aman-aman saja, kami semua dibawa ke RS Pematang Siantar. Yah begitulah kadang kehidupan, maksud mau lihat Ayahanda,malah kami tiga orang masuk RSU Siantar,disinilah kuingat Tuhan menolong kami melalui Keluarga Tulang/Ompung Sipayung,yang sangat dikenal dikampung kami,namanya Mangapil Sipayung, abangnya dipanggil Uda sama Ibuku. Semua yang terjadi sepengetahuan Tuhan !
Selasa, 11 Maret 2014
Senin, 10 Maret 2014
Hal-hal yang kuingat sebelum masuk Sekolah Dasar (SR).
Setelah aku agak besar, mungkin usia tiga atau emat tahun, kami pindah dari Lumbanbolak ke Banjarbolak. Ompungku yang nomor satu dan nomor tiga tinggal tetap di Lumbanbolak, huta yang dibangun Ayah mereka, lalu Ompungku yang nomor dua dan nomor empat, atau tepatnya Ompu Jones membangun huta, dalam bahasa Batak disebut Mamungka Huta,namanya huta Banjarbolak,lalu dia ngajak adiknya Ompu Kasmer bersama dia di huta itu. Nah disitulah kuingat kami tinggal beberapa lama, dalam satu rumah sederhana. Seingatku saat itu aku sudah punya adik perempuan dua orang, yg paling tua namanya Uli boru Simarmata, dan Renti boru Simarmata. Entah terserang penyakit apa, itoku Uli ini sakit parah, mungkin disentri, lalu meninggal, masih sempat terbayang wajahnya,namun yg kuingat dia sangat baik perilakunya, sesuai dengan namanya ULI, berbeda dgn adiknya yang karakternya keras. Selainnya tidak ada yang kuingat, maksudku berbekas dalam memoryku. Imada !
Suka Nangis Tengah Malam !
Minggu, 09 Maret 2014
Kenapa Nama Saya Berlin ?
Ayah Saya memberi Saya nama Berlin. Kenapa ? Bagi orang Batak Toba, atau biasa disebut juga Batak Tapanuli Utara, sebelum dipisah-pisah seperti sekarang ini, nama DR. Nommensen adalah Penginjil terbesar, sehingga sering disebut sebagai Rasulnya Orang Batak, karena dia lah yang paling berjasa dalam membawa agama Kristen ke Tanah Batak. Sekarang terlihat dari usahanya,adanya Gereja HKBP,yang beranggotakan Jemaat sekitar lima juta orang, dan sering dapat predikat sebagai Gereja Terbesar di Asia Tenggara. HKBP adalah Gereja Lutheran, yang mengikuti aliran Marthin Luther, seorang Pendeta atau Pastor Jerman yang mengadakan pembaharuan kepada agama induknya yaitu Katholik. Nah begitulah kesan yang tertera dalam benak Ayah Saya, bahwa Orang Jerman itu begitu berjasa yang telah membawa agama Kristen ke Tanah Batak, sedangkan Orang Belanda dalam benaknya adalah Penjajah. Maka tidak usah heran bahwa banyak orang Batak menunjukkan kekagumannya pada orang Jerman, dengan memberi nama anaknya Bismark, Berlin dan Hitler. Jadi terjawablah, bahwa saya diberi nama Berlin oleh Ayah Saya adalah dalam rangka itu, dan karena saya bermarga Simarmata,maka nama lengkap saya adalah Berlin Simarmata.
Sabtu, 08 Maret 2014
Cucu Yang Dinanti-natikan.
Ayah Saya namanya Markus Simarmata, nama itu rupanya ada hubungannya dengan nama Penulis salah satu Kita Injil,artinya itulah pertanda agama Kristen baru saja masuk kedaerah kami, atau tepatnya kampung halaman Ayah Saya, yang dulu disebut Negeri Simarmata, kini menjadi Desa Simarmata. Ayah Saya sesungguhnya adalah anak kedua dari Ompung Saya, anak pertamanya adalah seorang putri yang Saya panggil Namboru Ramelan br Simarmata yang kemudian hari menikah dengan Amangboru Nainggolan.
Bagi orang Batak, walau dia sudah punya cucu dari putrinya,terasa kurang sreg, karena cucu dari putrinya
marganya lain, jadi cucu dari putranyalah yang jadi Penerus Generasinya, tanpa mengurangi rasa sayang kepada cucu dari putrinya. Bagi orang Batak ada pepatah, boru Hangoluan,anak Hamatean,artinya dalam kehidupan sehari-hari putrinya akan sangat banyak memperhatikan orang tuanya,dari pada putranya, namun kalau ajal menjemput,maka sang putralah yang jadi penanggung jawab, tentu saja dibantu oleh putrinya.
Ayah Saya, pernah menikah dengan kerabatnya,atau istilahnya boru Tulangnya kandung, namun sampai empat tahun mereka tidak mendapat keturunan, walau secara adat dan agama tidak diperkenankan perceraian, toh mereka cerai juga, mungkin sikon dikampung sangat mempengaruhi,dengan segala risikonya.
Singkat ceritra, setelah Ayah cerai dgn istri pertamanya, pergilah dia merantau ke Sumatra Timur, dan beberapa tahun balik lagi,lalu menikah dgn ibu saya, marga sama dgn istri yg pertama,namun bukan kerabat lagi, sudah lain kelompok, hanya sama boru Sihaloho saja. Dan dua tahun kemudian katanya, Ayah yang selalu mengingatnya,tanggal 28 Augustus 1947, akupun diijinkan Tuhanlah hadir dibumi ini, dan harapan Ompung Saya pun terkabullah, dan terjadilah perobahan nama mereka, Ayahku jadi Apa Berlin Simarmata,dan Ompungku jadi Ompu Berlin Doli Simarmata, ibuku jadi Nai Berlin br Sihaloho dan Ompung Boruku jadi Ompu Berlin Boru br Sihaloho. Tuhan Maha Penyayang dan Maha Pengampuni.
Bagi orang Batak, walau dia sudah punya cucu dari putrinya,terasa kurang sreg, karena cucu dari putrinya
marganya lain, jadi cucu dari putranyalah yang jadi Penerus Generasinya, tanpa mengurangi rasa sayang kepada cucu dari putrinya. Bagi orang Batak ada pepatah, boru Hangoluan,anak Hamatean,artinya dalam kehidupan sehari-hari putrinya akan sangat banyak memperhatikan orang tuanya,dari pada putranya, namun kalau ajal menjemput,maka sang putralah yang jadi penanggung jawab, tentu saja dibantu oleh putrinya.
Ayah Saya, pernah menikah dengan kerabatnya,atau istilahnya boru Tulangnya kandung, namun sampai empat tahun mereka tidak mendapat keturunan, walau secara adat dan agama tidak diperkenankan perceraian, toh mereka cerai juga, mungkin sikon dikampung sangat mempengaruhi,dengan segala risikonya.
Singkat ceritra, setelah Ayah cerai dgn istri pertamanya, pergilah dia merantau ke Sumatra Timur, dan beberapa tahun balik lagi,lalu menikah dgn ibu saya, marga sama dgn istri yg pertama,namun bukan kerabat lagi, sudah lain kelompok, hanya sama boru Sihaloho saja. Dan dua tahun kemudian katanya, Ayah yang selalu mengingatnya,tanggal 28 Augustus 1947, akupun diijinkan Tuhanlah hadir dibumi ini, dan harapan Ompung Saya pun terkabullah, dan terjadilah perobahan nama mereka, Ayahku jadi Apa Berlin Simarmata,dan Ompungku jadi Ompu Berlin Doli Simarmata, ibuku jadi Nai Berlin br Sihaloho dan Ompung Boruku jadi Ompu Berlin Boru br Sihaloho. Tuhan Maha Penyayang dan Maha Pengampuni.
Langganan:
Postingan (Atom)





